Rabu, 26 Agustus 2026
Penanganan Karhutla jangan Mengorbankan hak Masyarakat adat
Agustus 26, 2026
Jumat, 03 Juli 2026
Skema Kredit Karbon dan Dampaknya terhadap Komunitas Akar rumput
Juli 03, 2026
Pada Hari Jumat 3 Juli 2026 Beranda Perempuan berkolaborasi dengan Jaringan Jaga Deca menyelenggarakan kelas Pelatihan " Skema Kredit Karbon dan Dampaknya terhadap Komunitas Akar rumput. Kegiatan yang berlangsung sekitar 2 jam ini menghadirkan narasumber Wanun selaku Direktur Climate Watch Thailand.
Zubaidah sebagai fasilitasi Kegiatan mengatakan " Pelatihan ini penting sekali bagi kita yang bekerja di akar rumput untuk memberikan edukasi bagi perempuan dan komunitas. Kita dilapangan sering mendengar pasar karbon tapi kita tidak memahami skema nya seperti apa dan bagaimana mereka bekerja hingga sampai ke komunitas kita. karena itu, kita ingin memahami lebih dalam bagaimana cara kerja pasar karbon."
Pada Sesi pembukaan Pelatihan, Wanun memberi pertanyaan kritis " Menurut kamu mengapa perusahaan tiba-tiba tertarik dengan hutan kita? Pertanyaan ini sontak memancing diskusi yang beragam dari peserta yang mayoritas adalah anak-anak muda yang bekerja di tingkat tapak.
Wanun yang juga merupakan Anggota dari APWLD menjelaskan bahwa Kredit karbon adalah sertifikat digital yang mewakili perusahaan atau negara untuk mengemisikan satu karbon dioksida atau gas rumah kaca ke Atmosfer. sistem karbon ini berjalan dengan skema cap and trade (batasi dan perdagangkan).
Pemerintah menetapkan batas maksimal emisi gas rumah kaca yang diperbolehkan oleh suatu perusahaan sehingga perusahaan yang diberikan jatah emisi berupa sertifikat karbon sesuai batas tersebut
Misalnya perusahaan A berhasil menekan emisi dibawah batas jatahnya. mereka memiliki kelebihan kredit. perusahaan B menghasilkan emisi melebihi batas jatahnya. mereka mengalami kekurangan kredit sehingga perusahaan B wajib membeli kelebihan kredit karbon milik perusahaan A agar tidak dikenakan denda atau denda. Perusahaan A dan Perusahaan B tidak samasekali menghentikan pelepasan emisi. mereka membeli kredit karbon untuk tetap melakukan bisnis seperti biasa dan terus melepaskan emisi penyebab krisis utama.
Sebagian besar keuntungan finansial dari penjualan kredit karbon dinikmati oleh broker karbon internasional, pengembang proyek raksasa, dan konsultan penilai. Komunitas lokal di akar rumput yang melakukan kerja nyata di lapangan seringkali hanya menerima porsi yang sangat kecil.
Lebih Jauh, Kasus di masyarakat di Thailand. Pasar karbon di wilayah hutan hadir dengan lebih banyak pengaturan dan perlindungan. karena pemerintah hanya fokus menyelamatkan karbon daripada menyelamatkan ruang hidup masyarakat yang selama ini bergantung pada sumber daha hutan dan lahan. Misalnya larangan membakar secara tradisional sehingga membuat petani tidak bisa makan karena tidak bisa menanam, tanaman dan pohon dicabut diganti dengan varietas tahan api demi menyelamatkan stok karbon.
Sabtu, 23 Mei 2026
Menebar Benih Ketangguhan : Padi Lokal Suku Batin Sembilan Menantang Krisis Iklim
Mei 23, 2026
Dusun Pangkalan Ranjau, Kecamatan Bahar Selatan, Muaro Jambi, merupakan tempat hidup sekelompok masyarakat yang dinilai oleh pemerintah sebagai Suku Anak Dalam. Mereka merupakan keturunan dari suku asli tertua di Jambi, yakni Suku Batin Sembilan.
Namun bagi komunitas internal, terutama para pemangku adat di Dusun Pangkalan Ranjau, mereka lebih sering menyebut diri mereka sebagai Orang Lalan. Identitas ini merujuk langsung pada kelekatan mereka dengan keberadaan Sungai Lalan dan anak sungai yang mengalir di sepanjang kelompok pemukiman
Sungai tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk batas wilayah adat, tetapi juga menjadi pusat kehidupan tempat rumah-rumah mereka dibangun di seluruh alirannya.
Seperti masyarakat adat lain di Indonesia, komunitas Batin Sembilan di Dusun Pangkalan Ranjau bergantung pada alam, terutama pada keberadaan hutan. Hingga kini, ketergantungan tersebut masih terus terjadi meskipun keadaan alam banyak mengalami pergeseran.
Selain itu, Komunitas Adat Batin Sembilan memiliki pengetahuan dalam merawat benih padi lokal, seperti padi Gading dan padi Selampai. Jenis padi yang ditanam didataran tinggi yang menghasilkan tekstur beras yang pulen
Menurut penuturan Mangku Basri kepada tim Beranda Perempuan. Padi ini pertama kali ditemukan sejak zaman Sriwijaya, dibawa oleh "orang laut" yang merupakan pegawai kolonial Belanda. Hingga kini, bibit padi lokal ini masih dilestarikan secara turun-temurun. Dengan pengelolaan teknik ladang dilanjutkan melalui serangkaian ritual adat.
Padi ini memiliki masa tanam berkisar antara 5 hingga 7 bulan dan dipanen hanya satu kali dalam setahun. Menurut pengakuan Basri kepada Beranda Perempuan, keluarganya kini merupakan generasi keenam yang menanam padi turunan.
Dari lahan seluas 1 hektar, ia mampu memanen 20 hingga 30 karung beras berukuran 50 kg. Ketika pandemi Covid-19 melanda pada tahun 2020 dan memicu pergerakan harga, wilayah ini justru menjadi penyelamat bagi masyarakat luar desa yang Membeli beras
Demi melestarikan tradisi ini, Basri tak ragu membagikan bibit padi lokal kepada warga pendatang. Syaratnya hanya satu: setelah panen, mereka wajib mengembalikan benih baru kepadanya untuk menjaga siklus pelestarian.
Padi Gading atau Padi Selampai ditanam dengan teknik dipindahkan yang merupakan antitesis pertanian modern yang bergantung pada bahan kimia dan biaya produksi yang tinggi. Metode ladang yang dipindahkan adalah cara alami untuk menghalau hama. Dengan berpindahnya lahan, tidak perlu kesulitan menghadapi serbuan rumput pembohong.
Selain itu, padi lokal ini ditanam dengan pembukaan lahan dengan cara membakar melalui ritual adat yang disebut dengan nunu karena padi ini tumbuh melalui media abu hasil pembakaran yang terkendali.
hal ini diperkuat dengan penuturan Mangku Basri " Padi turunan ini tahan hama semut dan musim kering tapi syaratnya padi hanya bisa tumbuh di tanah bekas bakar"
Seperti banyak penelitian di komunitas adat di Indonesia. Pelarangan pertanian membakar secara tradisional untuk mencapai tujuan iklim menyebabkan dampak negatif yang parah terhadap mata pencaharian
Tanpa dukungan keuangan dan alat transisi yang mampu, kebijakan tanpa membakar krisis pangan yang tersembuyi dan hilangnya varietas tanaman padi lokal
Selasa, 03 Februari 2026
Program MBG Mengancam nyawa Anak : Hentikan Sekarang !
Februari 03, 2026
Beranda Perempuan
menyatakan keprihatinan mendalam atas insiden keracunan massal yang menimpa
siswa di Kecamatan Sekernan, Muaro Jambi, pada 30 Januari 2026. Tercatat
sebanyak 104 anak harus dilarikan ke RSUD Ahmad Ripin, Sengeti, akibat
mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dalam wawancara mendalam bersama tim Beranda Perempuan, salah satu orang tua korban berinisial HI membeberkan kronologi dan dampak kesehatan yang dialami buah hatinya.
Insiden ini menambah daftar kasus keracunan nasional secara akumulatif telah mencapai 1.242 korban keracunan secara nasional dan lebih dari 100 aduan terkait menu tidak layak yang masuk ke lembaga riset CELIOS (Center of Economic and Law Studies).
Hal ini telah memperkuat dugaan degradasi kualitas pangan karena rantai dapur menjadi perburuan rente dan potensi korupsi barang dan jasa sehingga anggaran riil untuk bahan makanan di tingkat bawah terus menyusut dan berakhir dengan ancaman nyawa di piring makan anak-anak.
Menurut studi
Transparency International Indonesia (TII), regulasi program Makan Bergizi
Gratis (MBG) masih bersifat gender blind. yaitu belum mengakomodir
kebutuhan spesifik gender maupun inklusi sosial. Artinya, perempuan dan
kelompok rentan tidak memperoleh kesempatan, informasi, sumber daya, fasilitas
dan layanan yang sama sejak dalam tahap perencanaan.
Sementara itu, Orang tua seringkali kesulitan mendapatkan informasi yang jelas mengenai proses pengadaan makanan, standar kebersihan, dan hasil investigasi insiden keracunan. Kurangnya transparansi ini membuat mereka sulit untuk memahami akar masalah dan menuntut pertanggungjawaban dari pihak yang berwenang.
Situasi kian
diperparah dengan adanya pola pembungkaman terhadap para ibu yang berani
menyuarakan kritik, sehingga menciptakan iklim ketakutan yang menghambat
pengawasan publik terhadap keamanan pangan anak. seperti yang terjadi Beberapa
sekolah di daerah, seperti di Brebes, sempat mengedarkan surat pernyataan
kontroversial yang meminta orang tua untuk tidak menuntut secara hukum jika
terjadi keracunan.
Selama satu tahun perjalanannya, proyek ini beroperasi tanpa landasan hukum yang kokoh serta mekanisme pengawasan dan akuntabilitas yang transparan, meskipun telah menyedot anggaran sebesar Rp 71 triliun pada 2025. Bukannya mengevaluasi kegagalan sistem, pemerintah justru meningkatkan alokasi anggaran program MBG secara fantastis menjadi Rp335 triliun tahun ini dengan memangkas anggaran yang seharusnya diperuntukkan bagi sektor pendidikan
Proyek MBG tidak boleh dipaksakan dengan menjadikan anak-anak, perempuan, dan kelompok rentan sebagai objek eksperimen kebijakan yang gegabah dan berisiko tinggi. Memaksakan program berskala masif tanpa kesiapan sistem pengawasan yang mumpuni sama saja dengan mempertaruhkan keselamatan nyawa anak-anak di atas ambisi politik dan kepentingan pemilik modal
Karena itu kami
menuntut :
- Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan seluruh
biaya perawatan korban di rumah sakit ditanggung sepenuhnya. Jika wilayah
tersebut belum berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB), biaya akan dicover
oleh BPJS Kesehatan.
- Korban berhak menuntut layanan pendampingan psikologis
berkelanjutan untuk memulihkan trauma anak terhadap makanan sekolah.
- Hentikan program MBG secara nasional sampai ada evaluasi
menyeluruh atas sistem, mekanisme distribusi, dan standar mutu gizi serta
keamanan pangan.
- Alihkan sementara anggaran MBG untuk memperkuat fasilitas sekolah,
pelayanan kesehatan anak, dan dukungan gizi berbasis keluarga serta
komunitas.
Rabu, 24 Desember 2025
Jumat, 05 Desember 2025
STORIES OF SUNGAI LALAN : INDIGENOUS WOMEN’S RECLAIMING CLIMATE JUSTICE
Desember 05, 2025
KISAH SUNGAI LALAN: PEREMPUAN ADAT MEMPERJUANGKAN KEADILAN IKLIM
Buku kecil ini menyajikan kisah-kisah dan kearifan perempuan adat saat mereka memelihara dan mengelola sumber daya hutan, sekaligus mengungkap perjuangan abadi mereka dalam menjaga tanah leluhur dari kekuatan predator yang berkedok penyamaran menarik, yaitu pasar karbon dan berbagai pengendalian konsesi kehutanan.
Kisah-kisah ini berawal dari Mek Rohila, Mek Nuraini, dan Mek Impun, ibu-ibu yang dihormati para pemimpin suku Batin. Gelar Mek diberikan kepada perempuan lanjut usia yang sangat dihormati dalam komunitas, dihormati atas peran mereka sebagai penjaga prinsip dan nilai-nilai, sekaligus penjaga tradisi dan pembimbing bagi generasi mendatang dalam kehidupan adat. Bagi orang Mek, hutan adalah rumah, tempat berlindung bagi manusia, hewan, dan tumbuhan, terjalin erat dengan langit yang mengatur iklim. Ketika hutan direduksi menjadi sekadar harga dalam rupiah, bencana iklim mulai terungkap. Kearifan ini telah lama terkikis. Sejak tahun 1970-an, buldoser dari perusahaan kayu telah meratakan lahan, menebang pohon-pohon tua, dan mengekspor kayu gelondongan besar ke pasar internasional.
Bagi yang berminat membaca buku ini, silakan unduh melalui tautan ini;
https://bit.ly/reclaimingJustice
Rabu, 22 Oktober 2025
Perempuan Dalam Kebun Sawit
Oktober 22, 2025
Perempuan dalam kebun sawit
Jam baru menunjukkan pukul 06.00 WIB. Puluhan perempuan telah berjejer diatas mobil truk dengan dibalut baju lusuh dan berpupur beras dingin, mereka telah siap menantang matahari dan mengangkut supir mobil truk menuju lokasi areal perkebunan sawit .
Semua pekerja tersebut adalah buruh harian lepas (BHL) yang berasal dari desa lidung kabupaten Sarolangun, Jambi. Hampir setiap hari mereka terlibat dalam kegiatan peyiapan bibit dan pemeliharan ( pemupukan dan penyemprotan) diareal perkebunan sawit milik PT Krisna Duta Agroindo. Salahsatu perempuan buruh itu bernama Sri ( 38 tahun). Menurut pengakuannya ia menerima upah sebesar Rp. 37000,- perhari dan upah.
Hal tersebut tidak cukup untuk membiayai anak ketiga yang masih sekolah dan kebutuhan pangan keluarga sehari-hari yang semakin mahal. Terlebih lagi dengan beban kerja yang berat dan berbahaya sebagai penyemprot tanaman sawit, upah tersebut tidaklah cukup, terutama ketika ia sakit akibat terpapar bahan kimia berbahaya. Sebagai pekerja BHL, Sri tak akan mendapatkan tanggungan kesehatan dari perusahaan jika dia sakit, meskipun sakitnya adalah akibat dari pekerjaan yang dilakukannya. Berat bagi Sri untuk menjalani hidupnya sebagai BHL, namun tak ada pilihan yang lebih baik bagi Sri selain menjadi BHL. Karena sawah tempat Sri dahulu menyemai, menanam dan menuai padi telah pula berubah menjadi hamparan kebun kelapa sawit milik perusahaan besar itu.
Kisah yang dialami Sri dan beberapa teman perempuan nya sebenarnya dibicarakan kepada kita, dibalik keramaian pikuk pasar perkebunan sawit ada sekelompok manusia yang paling terpuruk dan luput dari perhatian publik yaitu perempuan. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan semua itu? Meningkatnya permintaan BHL perempuan akan berbanding lurus dengan masifnya permintaan akan kebutuhan perkebunan sawit oleh investor negeri negeri. Hal ini memicu krisis energi yang kian kronis sebagai akibat tingkat konsumsi yang tinggi dari negara-negara industri Uni Eropa, Jepang terutama Amerika. juga ditambah dengan satu kenyataan bahwa cadangan minyak dunia dari bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbarui akan habis dalam waktu yang tidak lama lagi
Untuk mengatasi krisis energi tersebut dewasa ini telah dikembangkan energi berbahan bakar nabati dari kelapa sawit. Penggunaan energi berbahan bakar nabati ini telah menjadi kebijakan energi dari sejumlah kapitalis negeri dengan memperhebat penguasaan lahan untuk produksi bahan baku nabati di negara jajahan seperti Indonesia. Pemerintah indonesia yang tunduk pada kepentingan kapitalis dengan sigap meyediakan wilayah wilayah luas untuk industri dan perkebunan penghasil bahan bakan nabati.
Ini menjadi persoalan serius karena sasaran wilayah untuk perkebunan sawit yang dimaksudkan di lahan produktif milik petani dalam skala besar dengan cara merampas bahkan sering kali dilakukan dengan cara kekerasan yang melibatkan polisi dan militerperempuan yang mayoritas berasal dari keluarga petani harus tersingkir dari lahan, meyebabkan perempuan kehilangan mata pencaharian, terpuruk dalam ranah domestik dan menutup rapat sejarah pengetahuan perempuan tentang pertanian yang ekologis. Fenomena ini secara langsung meyebabkan terjadinya timbulnya tenaga murah perempuan dalam jumlah besar dipedesaaan. Mengubur budaya kerja produksi pertanian secara kolektif antara laki-laki dan perempuan.
Dalam keterpurukan tersebut, perusahaan sawit mengunakan akal bulusnya untuk terus menggeruk keuntungan dengan menghemat biaya produksi. Mengenai keadaan itu, biasanya perusahaan-perusahaan akan berupaya mendapatkan buruh secepat-cepatnya namun dengan kerja sama yang memungkinkan mereka bisa memecat buruh-buruhnya kapanpun dibutuhkan, sehingga dengan leluasa perusahaan dan perkebunan kelapa sawit tidak akan menanggung biaya untuk mencakup kesejahteraan dan upah yang rendah.
Tentu saja yang memenuhi syarat tersebut adalah dengan memperkerjakan tenaga perempuan, didukung stereotip negatif perempuan sebagai seorang penurut, telaten bekerja. menjadi hak mutlak perusahaan untuk menentukan harga tenaga kerja berdasarkan kebutuhan perusahaan untuk mencari keuntungan berlipat ganda.
Di sisi lain, ketika perempuan kehilangan mata pencarian secara langsung meyebabkan menurunnya pendapatan keluarga. perempuan harus berpikir untuk menemukan jalan keluar ditengah meroketnya harga harga kebutuhan bahak pokok dan juga kebutuhan pendidikan anak anak. Inilah yang menjadi magnet perempuan untuk bekerja sebagai BHL di perkebunan kelapa sawit.
Dengan demikian, tetes demi tetes produksi sawit telah menorehkan beban yang semakin berat bagi perempuan, sudah seharusnya pemerintah melakukan langkah korektif dengan Menjamin implementasi dari Convention on the Elimination of all froms Discrimination Against Women (CEDAW) Pasal 14 Menyebutkan bahwa perempuan pedesaan dijamin hak dan aksesnya dalam pengelolaan sumber daya hutan.
”CEDAW menegaskan bahwa kebijakan dan Hukum Negara perlu mengatasi keseimbangan melalui langkah-langkah korektif atau perbaikan dan memastikan kesetaraan dalam kesempatan, keterlibatan perempuan, pemanfaatan dan pemanfaatan untuk kehidupan perempuan pedesaan dalam pengelolaan sumber daya hutan.
Tidak hanya itu, diperlukan keberanian dari pemerintah untuk menghapuskan segala bentuk monopoli atas tanah yang dilakukan oleh negara kapitalis dan menjamin pemerataan hasil produksi dalam rangka mengangkat kesejahteraan. Jaminan ini berlaku untuk semua pihak yang bekerja di atas tanah tersebut, tanpa diskriminasi gender, sehingga kaum perempuan tani memiliki dasar yang mampu dalam hal partisipasi dan kontrol ekonomi maupun politik atas lahan.
Struggling For Climate Justice : Sharing Stories From Women of the Asia-Pacific
Oktober 22, 2025
Senin, 18 Agustus 2025
Beranda Perempuan dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UIN STS Jambi Adakan Webinar Diskusi Series
Agustus 18, 2025
Beranda Perempuan bekerjasama dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UIN STS Jambi mengadakan Webinar Diskusi Series. Kegiatan ini dilakukan dimulai tanggala 17-28 agustus dengan menghadirkan Narasumber perempuan yang memiliki pengalaman panjang dalam advokasi keadilan iklim. Kegiatan ini diadakan sebagai wadah edukasi publik untuk memahami akar masalah krisis iklim dan dampaknya terhadap perempuan adat dan perempuan di pedesaan. juga untuk meningkatkan minat penelitian bagi akademisi dengan isu krisis iklim dalam konteks perempuan.
Risma Umar selaku founder Aksi! for gender, social and ecological justice menjadi Narasumber pada sesi pembukaan yang mengupas sejarah Kolonialisme Hijau dan mengkritisi inisiatif iklim yang belum menyentuh pada akar masalah dan Kelompok Perempuan.
Pada seri diskusi kedua, Dewi Rosana berbagi perspektif dan pengalaman inisiatif iklim yang telah dijalankan komunitas melalui praktik agroechology yang ramah iklim dan pemateri ketiga hadir sebagai narasumber dari Direktur Beranda Perempuan yang mematik diskusi mengenai krisis iklim dan keadilan Gender.
acara ini kemudian ditutup dengan penyampaian Materi dari Direktur Solidaritas Perempuan Arma Yanti yang sangat kompherensif membahas mengenai proyek-proyek iklim yang justru memperburuk situasi hidup masyarkat adat dan perempuan
Jumat, 18 Juli 2025
Webinar Suara Perempuan untuk Keadilan Iklim
Juli 18, 2025
Beranda Perempuan bekerjasama dengan Universitas Islam Sultan Syaifudin Jambi (UIN STS) mengadakan serial diskusi bertajuk suara perempuan untuk keadilan Iklim. Pada Seri pertama. Diskusi dibuka dengan Materi mengenai Kolonialisasi Hijau dan dampaknya terhadap perempuan. Hadir sebagai Narasumber yaitu Risma Umar selaku Wakil Direktur Aksi for Gender, Social and Ecological Justice.
Risma Umar menyampaikan bahwa Krisis iklim bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga mencerminkan ketimpangan struktural yang berakar pada kolonialisme dan patriarki. krisis iklim disebabkan hadirnya industri ekstraktif yang melepas banyak emisi. sehingga seharusnya negara-negara kaya pemilik industri ekstraktif yang harus punya tanggungjawab besar terhadap negara-negara asia yang merasakan dampak paling besar.
Proyek geothermal, REDD+, food estate, hingga ekstraksi mineral atas nama energi hijau, dinilai telah menggusur ruang hidup masyarakat adat, menghilangkan sumber penghidupan perempuan, dan menciptakan konflik lingkungan yang tidak partisipatif.
Dalam kegiatan tersebut Bapak Dr. Fridiyanto selaku Ketua LPPM Menyampaikan bahwa mengenai isu perubahan iklim dan kaitannya dengan perempuan masih sangat baru sehingga diskusi ini sebagai ruang belajar bersama.
Zubaidah dalam pembukaan juga menambahkan bahwa webinar ini akan dilakukan pararel dimulai tanggal 17 juli hingga tanggal 28 Juli 2025 dan akan harapannya bisa mematik ketertarikan akademisi dan peneliti untuk melakukan penelitian mengenai persoalan perempuan dan iklim yang saat ini masih sangat minim
Jumat, 30 Mei 2025
Women, Floods and Climate Change
Mei 30, 2025
Women often face additional challenges in this kind of situation. several women in rural communities have limited access to information regarding weather and early warning systems. this makes it harder for them to prepare themselves and their communities for potential floods.
Minggu, 09 Maret 2025
(International Women's Day ) Wujudkan Kedaulatan Pangan dan Berikan Layanan Kesehatan Bagi Perempuan adat
Maret 09, 2025
Perempuan merupakan produsen utama dalam praktik pertanian tradisional. ketrampilan dan praktik lokal mereka sangat penting untuk memastikan ketahanan pangan bagi rumah tangga dan juga masyarakat. namun, praktik ini belum mendapatkan pengakuan dan dilindungi oleh negara sehingga perempuan mengalami pemiskinan dan rentan dikriminalisasi.
Seperti Hasil tracking media yang dikumpulkan Beranda Perempuan, sepanjang tahun 2023-2024. sekitar 2 orang perempuan di tuntut hukuman penjara karena membuka lahan dengan cara merun secara tradisional.
Perempuan tersebut adalah Sona Binti Kulupmat, masyarakat perempuan Talang Mamak di Desa Sanglap, Kecamatan Batang Cenaku Kabupaten Indra Giri Hulu dan Dewita, Perempuan petani kecil di Desa Pemayungan Kabupaten Tebo, Jambi, berniat membersihkan lahan untuk ditanami padi malah masuk jeruji.
Apa yang dialami oleh dua perempuan ini juga dikhawatirkan rentan dialami oleh banyak perempuan yang tinggal dekat dengan kawasan konsesi ditengah semakin nya isu perubahan iklim dengan meningkatnya proteksi kawasan hutan dengan mengunakan aparat.
Pemerintah menerapkan kebijakan tanpa pembakaran (zero burning policy) tanpa membedakan antara deforestasi skala besar yang banyak terjadi dilahan konsesi dengan pembakaran skala kecil yang turun temurun dilakukan oleh masyarakat adat.
Kasus ini mengambarkan realitas hukum yang patriakhis-ketika Informasi aturan terutama terkait agraria dan iklim sering kali tidak disampaikan dengan cara yang mudah diakses oleh perempuan. terutama bagi perempuan petani dan perempuan adat yang mengantungkan hidupnya dari sumber daya hutan dan lahan.
Hasil Temuan beranda Perempuan di Komunitas Batin sembilan di Dusun Tanjung Lebar Kabupaten Muaro Jambi mengeluhkan, banyak perempuan memilih tidak menanam dan terpaksa harus membeli beras dengan harga dua kali lipat lebih mahal. perempuan terpaksa bekerja serabutan untuk membeli beras dengan bekerja menjadi buruh dikebun milik perusahaan.
Pemerintah lebih banyak berkomunikasi dengan laki-laki sebagai kepala keluarga sehingga perempuan sering terpinggirkan dari diskusi mengenai hukum bahkan perempuan samasekali tidak mendapatkan akses mengenai teknologi, modal dan pengetahuan mengenai iklim dan pertanian
Padahal perempuan memiliki inisiatif dan pengetahuan lokal dalam merespon situasi krisis iklim, baik adaptasi maupun mitigasi. misalnya, komunitas perempuan Batin sembilan masih mengembangkan varietas bibit padi lokal seperti padi kumpai, pulot dan kuning yang toleran terhadap iklim, mereka saling bertukar benih dengan perempuan pendatang.
Proyek-proyek iklim yang dilakukan justru tidak melibatkan perempuan, bahkan tidak meminta persetujuan perempuan, mulai dari perencanaan sampai pelaksanaannya. Hal ini berbuntut pada munculnya permasalahan-permasalahan baru yang dialami oleh perempuan.
Proyek seperti Food Estate justru lebih mengedepankan kepentingan dan penguasan lahan bagi korporasi besar menghilangkan akses dan pengelolaan bagi petani kecil seperti perempuan.
kehilangan atas sumber penghidupan akan berdampak menurunnya daya perempuan dalam mengakses layanan dasar seperti kesehatan dan pendidikan. Komunitas perempuan orang rimba dan talang mamak yang menjadi fokus pendampingan Warsi dan Pundi Sumatera. Fasilitas kesehatan bagi perempuan masih sangat buruk dan masih terdapat kasus stunting
Data yang dihimpun Beranda Perempuan, sepanjang tahun 2022-2025 terjadi 4 kasus kematian Bayi meninggal dunia karena ketiadaan layanan rumah sakit dan tenaga bidan yang dapat dijangkau oleh komunitas adat batin sembilan di Dusun Tanjung Lebar, Kabupaten Batanghari Jambi. Kondisi ini juga diperburuk dengan hilangnya pengetahuan dan sumber tanam-tanaman obat yang biasa dikelola oleh perempuan.
Akses atas pendidikan bagi perempuan adat juga masih pada angka rendah, bukan semata karena budaya namun belum banyak upaya yang pemerintah lakukan untuk mengintervensi akar dari permasalahan tersebut. Diskriminasi masih terjadi. Pendidikan tinggi masih menjadi satu hal yang tak terjangkau bagi Perempuan adat, apalagi atas peluang untuk memperoleh pekerjaan yang layak.
Karena itu, kami organisasi masyarakat sipil, komunitas menuntut beberapa hal sebagai berikut :
- Mengakui dan melindungi praktik tradisional perempuan dalam pengelolaan pangan yang lebih adaptif dengan memberikan dukungan modal, teknologi dan pengetahuan inovasi
- Mencabut kebijakan yang dapat mengkriminalisasi perempuan adat dan perempuan petani yang menjalankan metode bertani secara tradisional dan mengembangkan regulasi yang berpusat pada pengetahuan dan pengalaman perempuan
- Memberikan Layanan kesehatan yang mudah di jangkau secara berkala dengan tenaga dokter dan bidan. Serta dukungan atas biaya pendidikan dan peluang kesempatan bekerja bagi Perempuan adat
- Memberikan dukungan atas inisiatif iklim yang dijalankan oleh komunitas perempuan yang lebih adaptif terhadap iklim sebagai solusi nyata dalam mengatasi iklim
- Batalkan Proyek Food Estate yang menghilangkan akses bagi perempuan petani kecil
Siaran Pers ini dibuat bersama dengan beberapa lembaga sebagai berikut :
- Beranda perempuan
- Cappa
- Gita Sada
- Kohati
- Perkumpulan Hijau
- Pundi Sumatera
- Setara
- Warsi
- G cita
Jumat, 10 Januari 2025
Perempuan Adat Batin Sembilan Menuntut Akses Layanan Kesehatan Melalui Gerakan Jahit Pembalut Kain
Januari 10, 2025
![]() |
| Dok. Beranda Perempuan |
Minggu, 29 Desember 2024
Perempuan Untuk Keadilan Iklim
Desember 29, 2024
![]() |
| Dok Beranda Perempuan |
- Pendanaan Publik Berbasis Hibah dapat adaptasi yang diakses oleh komunitas garis depan yaitu Petani, perempuan adat untuk memungkinkan tindakan nyata di daerah dan komunitas yang rentan terhadap iklim, alih-alih pinjaman dan keuangan swasta yang semakin meningkatkan beban utang yang akan semakin menjauhkan perempuan atas akses layanan dasar bagi perempuan.
- Tujuan keuangan publik yang eksplisit untuk kehilangan dan kerusakan, adaptasi dan mitigasi.
- Transparansi dan akuntabilitas, untuk mengetahui di mana dan bagaimana keuangan dimobilisasi dan didistribusikan, menolak marginalisasi lebih lanjut dari masyarakat yang paling terpengaruh oleh perubahan iklim, dan definisi yang jelas tentang apa kerangka pembiayaan iklim termasuk dan mengecualikan.
- Penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia dan Keadilan harus menjadi prinsip inti dalam hasil pendanaan iklim di COP29 yang menjamin bahwa pendekatan berbasis hak akan diadopsi dalam mobilisasi dan distribusi keuangan.









.jpeg)




Social Footer