Dusun Pangkalan Ranjau, Kecamatan Bahar Selatan, Muaro Jambi, merupakan tempat hidup sekelompok masyarakat yang dinilai oleh pemerintah sebagai Suku Anak Dalam. Mereka merupakan keturunan dari suku asli tertua di Jambi, yakni Suku Batin Sembilan.
Namun bagi komunitas internal, terutama para pemangku adat di Dusun Pangkalan Ranjau, mereka lebih sering menyebut diri mereka sebagai Orang Lalan. Identitas ini merujuk langsung pada kelekatan mereka dengan keberadaan Sungai Lalan dan anak sungai yang mengalir di sepanjang kelompok pemukiman
Sungai tidak hanya berfungsi sebagai penunjuk batas wilayah adat, tetapi juga menjadi pusat kehidupan tempat rumah-rumah mereka dibangun di seluruh alirannya.
Seperti masyarakat adat lain di Indonesia, komunitas Batin Sembilan di Dusun Pangkalan Ranjau bergantung pada alam, terutama pada keberadaan hutan. Hingga kini, ketergantungan tersebut masih terus terjadi meskipun keadaan alam banyak mengalami pergeseran.
Selain itu, Komunitas Adat Batin Sembilan memiliki pengetahuan dalam merawat benih padi lokal, seperti padi Gading dan padi Selampai. Jenis padi yang ditanam didataran tinggi yang menghasilkan tekstur beras yang pulen
Menurut penuturan Mangku Basri kepada tim Beranda Perempuan. Padi ini pertama kali ditemukan sejak zaman Sriwijaya, dibawa oleh "orang laut" yang merupakan pegawai kolonial Belanda. Hingga kini, bibit padi lokal ini masih dilestarikan secara turun-temurun. Dengan pengelolaan teknik ladang dilanjutkan melalui serangkaian ritual adat.
Padi ini memiliki masa tanam berkisar antara 5 hingga 7 bulan dan dipanen hanya satu kali dalam setahun. Menurut pengakuan Basri kepada Beranda Perempuan, keluarganya kini merupakan generasi keenam yang menanam padi turunan.
Dari lahan seluas 1 hektar, ia mampu memanen 20 hingga 30 karung beras berukuran 50 kg. Ketika pandemi Covid-19 melanda pada tahun 2020 dan memicu pergerakan harga, wilayah ini justru menjadi penyelamat bagi masyarakat luar desa yang Membeli beras
Demi melestarikan tradisi ini, Basri tak ragu membagikan bibit padi lokal kepada warga pendatang. Syaratnya hanya satu: setelah panen, mereka wajib mengembalikan benih baru kepadanya untuk menjaga siklus pelestarian.
Padi Gading atau Padi Selampai ditanam dengan teknik dipindahkan yang merupakan antitesis pertanian modern yang bergantung pada bahan kimia dan biaya produksi yang tinggi. Metode ladang yang dipindahkan adalah cara alami untuk menghalau hama. Dengan berpindahnya lahan, tidak perlu kesulitan menghadapi serbuan rumput pembohong.
Selain itu, padi lokal ini ditanam dengan pembukaan lahan dengan cara membakar melalui ritual adat yang disebut dengan nunu karena padi ini tumbuh melalui media abu hasil pembakaran yang terkendali.
hal ini diperkuat dengan penuturan Mangku Basri " Padi turunan ini tahan hama semut dan musim kering tapi syaratnya padi hanya bisa tumbuh di tanah bekas bakar"
Seperti banyak penelitian di komunitas adat di Indonesia. Pelarangan pertanian membakar secara tradisional untuk mencapai tujuan iklim menyebabkan dampak negatif yang parah terhadap mata pencaharian
Tanpa dukungan keuangan dan alat transisi yang mampu, kebijakan tanpa membakar krisis pangan yang tersembuyi dan hilangnya varietas tanaman padi lokal



.jpeg)













Social Footer