Bertani Hingga Senja

Main Posts Background Image

Main Posts Background Image

Rabu, 08 Juli 2020

Bertani Hingga Senja



Tangannya dengan tangkas membungkus nasi. Mintarsih tengah bersiap untuk berangkat ke ladang.
Usianya sudah tak layak dikatakan muda. 60 tahun. Sangat wajar jika warga sesama petani memanggilnya Nenek. Di lingkungannya Mintarsih akrab dipanggil Nek Min.

Menyibak ranting-ranting dan dahan-dahan kayu mati adalah aktivitas Nek Min saban hari. “Ya, ke ladang. Kalau nggak ke ladang mah ngapain lagi”, tegasnya, (Jum’at, 14/11). Dialek sunda begitu melekat dalam setiap bicara. Memang perannya di ladang tak sebesar Ki Antar, suaminya, Namun Nek Min tak pernah tinggal diam kalau sudah menyangkut apa saja yang perlu ditanam.
Tak pelak, kebutuhan dapur Nek Min dan Ki Antar tertutupi oleh aneka tanaman di ladang mereka. “Kalau untuk makan ya cukup”, tutur Nek Min datar. Nek Min juga menanam kunyit dan jahe, biasanya untuk keperluan obat. Pasangan senja ini merasakan berlipat-lipat lebih tenang hidup di hutan, menjaga kebun yang kini tumbuh subur. Disini lah masa depan anak-anaknya disandarkan.

Tapi situasi tak tiba-tiba damai dan lancar seperti sekarang. Di pertengahan 2008 lalu, Nek Min dan Ki Antar datang ke hutan belantara – memang dengan niat untuk bertani dan membangun kebun, karena hanya itu keahlian yang mereka punya. Namun larangan mengancam bertubi-tubi. “Kalau nggak inget masa depan anak-anak, ya nggak kuat”, ulasnya.
Hari-hari Nek Min selalu dalam bayang-bayang pengusiran aparat. Suara ledakan pistol pun bukan lagi hal asing bagi Nek Min. Pernah di satu ketika, Nek Min diberi nasihat oleh kerabat sesama pembuka hutan, agar Nek Min dan Ki Antar sebaiknya keluar dulu dari hutan. Pasalnya, pihak perusahaan konservasi – pengelola hutan ini – bersama aparat kepolisian akan menangkap suami Nek Min, karena dicap sebagai provokator bagi warga lainnya.

Dengan berat hati Nek Min meninggalkan tebasan yang ketika itu baru dimulai, demi keselamatan suaminya dari intaian aparat. “Rasanya nggak ikhlas ninggalin ladang. Tapi demi Aki, ya terpaksa ngalah dulu”, ingat Nek Min.
Tak lama setelah kepergian Nek Min dan Ki Antar, situasi memang memanas. Sejumlah pimpinan serikat tani ditangkap karena melawan dan tak mau diusir aparat dan perusahaan. Satu sisi Nek Min merasa tak enak hati dengan warga lainnya. Namun tak tega melihat suaminya jika harus ikut diciduk aparat mengingat usianya yang hampir menginjak 80 tahun.

Dua bulan berikutnya, Nek Min akhirnya kembali ke hutan, tanpa sang suami. Nek Min menanam tanaman jangka pendek untuk sekedar keperluan makan. Terlebih Nek Min tak ingin membiarkan lahannya menjadi belukar.

Setelah situasi mulai dingin, aparat mulai surut, Nek Min memberi kabar ke Ki Antar agar segera menyusul.
Situasi aman sementara. Namun akar masalah masih tetap menjalar. Nek Min dan petani lainnya bertani dan berkebun di kawasan hutan negara. Kawasan yang tak dapat diakses secara bebas oleh petani. Artinya, ancaman untuk Ki Antar, suami Nek Min belum padam sepenuhnya.

Oleh: Pauzan Fitrah (Anggota AGRA-Jambi)

Error 404

The page you were looking for, could not be found. You may have typed the address incorrectly or you may have used an outdated link.

Go to Homepage