Our Exlusive Blog

Lorem ipsum eu usu assum liberavisse, ut munere praesent complectitur mea. Sit an option maiorum principes.

Main Posts Background Image

Main Posts Background Image
Tampilkan postingan dengan label Kegiatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kegiatan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Oktober 2020

Perempuan Membangun Ketahanan Pangan, Gerakkan Budaya Menanam di Tengah Pandemi


Peran perempuan membangun desa kini semakin terlihat. Di seberang Sungai Batanghari, tepatnya di Desa Pulau Raman, Kabupaten Batanghari, perempuan yang tergabung dalam dua kelompok, menanam sayuran tanpa pestisida.  Mereka juga membuat pupuk organik, yang digunakan untuk tanaman tersebut.

SUARA ketek terdengar samar dari daratan yang terletak di bibir Sungai Batanghari tersebut. Belasan perempuan berkumpul di petak kebun di Desa Pulau Raman, Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batanghari. Mereka memanen kangkung, yang mereka tanam sebulan lalu.

Itu adalah demonstrasi plot (demplot) yang difasilitasi Yayasan Beranda Perempuan. Metode penyuluhan langsung ini dilakukan untuk mendorong produktivitas dan hasil pertanian.

Ibu-ibu di Desa Pulau Raman jadi motor penggerak untuk mengembangkan pertanian di daerahnya. Terlihat wajah kebahagiaan di wajah ibu-ibu tersebut saat memanen tanaman sayuran itu.

Hari pertama panen di wilayah Hilir, hari kedua panen di wilayah hulu. Tanaman tanpa pestisida itu mereka bagi-bagi hasilnya untuk anggota kelompok. Rencananya untuk konsumsi keluarga.

Kata Direktur Beranda Perempuan, Zubaidah, kegiatan yang berlangsung selama empat bulan itu dimulai dari diskusi kampung. Mereka membahas peran perempuan dalam pengelolaan sayur tanpa pestisida.

"Di sini, kami melakukan pelatihan pembuatan pupuk alami dan pengembangan pertanian di desa," terangnya kepada Tribun di lokasi kegiatan, Rabu (30/9).

Para perempuan di desa ini dibentuk dalam dua kelompok. Hulu dan Hilir. Masing-masing kelompok dibina untuk mengembangkan pupuk alami yang hasilnya mereka uji pada tanaman yang menjadi demplot.

Selain kangkung, mereka juga mengembangkan pertanian pada bayam dan cabai. Ada sekitar 30 orang yang mengikuti kegiatan itu, dibatasi karena adanya pandemi Covid-19. Mereka dibagi menjadi dua kelompok, 15 orang per kelompok.

Pendampingan Beranda Perempuan terhadap kaum hawa di Desa Pulau Raman bukan tanpa alasan. Minimnya sarana pendidikan menjadi satu di antara yang menggerakkan mereka untuk mendampingi.


Dari informasi yang diperoleh, hanya ada SD di sana. Mereka yang hendak sekolah lebih tinggi harus menyeberang ke desa tetangga untuk mengeyam pendidikan di MTs atau SMP.

Untuk sekolah di tingkat SLTA, lebih sulit lagi. Mereka harus menyeberang Sungai Batanghari dan bersekolah di Pijoan, Muarojambi. Atau, jika tidak ingin menyeberang, pilihan sekolah lain juga ada di Sengeti, Muarojambi.

lasannya, karena dua tempat itu yang paling dekat, jika tidak merantau untuk mencari pendidikan di tempat lain. Akses jalan yang sulit juga menjadi tantangan bagi mereka untuk mendapat pendidikan tinggi. Meski sudah ada di antara mereka yang bergelar sarjana, tapi itu hanya sebagian kecil. Mereka rata-rata mengenyam pendidikan hanya sampai SD atau SLTP.

Kondisi ekonomi juga menjadi penyebab sulitnya mereka mendapat pendidikan, selain fasilitas yang juga tidak memadai. Imbasnya, mereka yang putus sekolah, sebagian besar memilih menikah pada usia di bawah 19 tahun.

"Pendampingan pada perempuan petani selama ini, kami selalu beririsan dengan persoalan perkawinan usia anak dibawah 19 tahun. Situasi kemiskinan pada keluarga di desa berdampak multidimensi terhadap anak perempun. Baik putus sekolah, hingga hilangnya akses informasi terkait kesehatan reproduksi," jelas Zubaidah.

Meski begitu, peran perempuan di Desa Pulau Raman tidak bisa dipandang sebelah mata. Mayoritas mereka memilih bekerja di umo (sawah) atau ladang.

Mendongkrak pertanian di Desa Pulau Raman menjadi satu di antara cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Selain, kata Zubaidah, pendidikan juga yang mesti terus didorong untuk desa yang berpenduduk sekitar 1.200 jiwa itu. Hasilnya, masyarakat kini mulai bisa panen. Mereka membagi-bagikannya ke kampung. Kangkung yang mereka tanam pun lebih sehat karena, seperti yang disampaikan Zubaidah, tidak mengandung pestisida.

Sulaiman, Kepala Desa Pulau Raman mengatakan kegiatan ini menambah pengetahuan bagi ibu-ibu petani tentang membuat pupuk organik.

Bahannya sudah disediakan alam. Ia juga mendorong perempuan untuk aktif bergerak membangun desa. (Mareza Sutan AJ)

Sumber: Tribun Jambi

Kamis, 13 Agustus 2020

Kolaborasi Antar Pihak untuk Mendukung Gerakan Pertanian yang Ramah Lingkungan Berbasis Komunitas Perempuan



Yayasan Beranda Perempuan mengadakan Workshop dengan tema “Kolaborasi Antar Pihak untuk Mendukung Gerakan Pertanian yang Ramah Lingkungan Berbasis Komunitas Perempuan”.

Acara yang di selenggarakan pada tanggal 9 Agustus 2020 di Aula Kantor Desa Pulau Raman berjalan dengan lancar dengan mengikutsertakan Petani Perempuan, Kepala Desa, Sekretaris Desa, ketua BPD, dan Ketua Gabungan Kelompok Tani (GAPOKTAN) Desa Pulau Raman, serta perwakilan Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Batanghari.

Zubaidah selaku Direktur Yayasan Beranda Perempuan menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah ruang bagi perempuan yang selama ini tidak pernah terlibat dalam program pertanian maupun kegiatan di desa, sebagaimana kenyataan dilapangan dimana peran perempuan mayoritas telah diwakilkan oleh laki-laki. Factor yang menyebabkan keterbelakangan peran perempuan selama ini diantaranya adalah kemiskinan, dan pendidikan yang rendah yang disebabkan oleh pernikahan dini, serta tidak adanya akses untuk menjangkau jenjang pendidikan formal. Contonya di Desa Pulau Raman pendidikan yang disediakan hanya sebatas pendidikan Sekolah Dasar (SD), untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya, anak-anak desa harus menempuh perjalanan keluar desa yang memakan waktu 1-2 jam perjalanan menggunakan kendaraan.

Pada bidang pertanian, menurutnya masyarakat desa terkhusunya perempuan kurang memaksimalkan potensi desa dan cenderung menggunakan bahan kimia sebagai solusi awal untuk pertanian, padahal bahan pembuatan pupuk organik sendiri dapat ditemukan dengan mudah di lingkungan desa. Zubaidah juga mengajak masyarakat untuk pelan-pelan mulai mengurangi penggunaan bahan kimia dan berpindah ke pupuk organik apalagi menurutnya zaman sekarang pemerintah memiliki banyak program-program pertanian organik.

Sedangkan Firdaus selaku perwakilan dari Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Batanghari, Menyampaikan bahwa bantuan pemerintah kabupaten terhadap petani desa Pulau Raman selalu ada, namun bantuan yang diberikan hanya di alamatkan kepada kelompok tani. Berdasarkan data Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura, salah satu kelompok yang mendapatkan bantuan pertanian adalah Kelompok Wanita Tani (KWT) Anggrek yang beranggotakan 25 orang. Namun KWT Anggrek sudah lama tidak beroperasi dan anggota kelompok tidak menerima bantuan apapun selama hampir dua tahun belakangan. Terkait hal tersebut Firdaus menjelaskan bahwa kelompok yang tidak beroperasi dan tidak melaporkan kegiatannya tidak akan mendapatkan bantuan lagi. Sehingga solusinya, beliau menyarankan untuk mengaktifkan kembali dan memperbarui daftar anggota kelompok.

Pada sesi terakhir dilakukan penandatanganan kesepakatan kerjasama antara Desa Pulau Raman yang diwakilkan oleh Sekretaris Desa dan Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Batanghari, yang diwakilkan oleh Pak Firdaus, serta disaksikan oleh Beranda Perempuan. Adapun isi kesepakatan tersebut adalah; 1) Pemerintah desa dan pemerintah kabupaten mendukung keberlanjutan kelompok perempuan yang mengelola tanaman sayur tanpa pestisida dan bahan kimia. 2) Dalam pelaksanaan musyawarah desa pengurus kelompok perempuan harus dilibatkan, Pengurus kelompok perempuan terus bekerja sama untuk menjalankan program pertanian, pendidikan pernikahan usia dini, pendidikan atau masalah yang selama ini menjadi persoalan di desa tetapi belum menjadi program desa dengan bekerja sama dengan instansi terkait. 3) Pemerintah desa memberi perhatian pada perempuan keluarga miskin yang selama ini belum mendapatkan akses bantuan, informasi, dan dukungan lainnya.

Setelah pendatangan kesepakatan kerjasama, acara yang di pandu oleh moderator Sawitri di tutup dengan foto bersama.


Rabu, 29 Juli 2020

Pembuatan Kompos, Beranda: Pupuk Kimia Berbahaya Bagi Reproduksi Perempuan



Bertujuan untuk membangun kesadaran tentang bahaya penggunaan bahan kimia dan pestisida bagi lingkungan dan kesehatan reproduksi perempuan, Beranda Perempuan mengadakan pelatihan pembuatan pupuk kompos pada kelompok petani perempuan yang mengelola tanaman hortikultura di desa Pulau Raman, Kecamatan Pemayung, Batanghari, Senin (27/07/2020) kemarin.

Alasan diadakan pelatihan ini, karena para petani perempuan masih banyak keterbatasan informasi, masih rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya dukungan terkait bahaya penggunaan pestisida dalam penggunaan lahan.

“Pengunaan pupuk kimia dan Pestisida bisa menjadi salahsatu faktor peyebab kasus Stunting dan menurunnya kesehatan reproduksi perempuan di Desa. Karena itu, kedaulatan perempuan atas pengelolaan lahan yang ramah lingkungan harus diperjuangkan sebagai benteng membatasi intervensi kepentingan pasar produk pupuk kimia dan pestisida,” Kata Zubaidah, salah satu perwakilan Beranda Perempuan membuka sesi acara pelatihan.

Budiyanto, selaku Pemateri dari Tim Teknis Budidaya Tanaman Mitra Aksi, meyebutkan pengunaan bahan kimia yang berlebihan bisa merusak tanah sehingga tanah tidak gembur mematikan populasi organisme-organisme pembentuk unsur hara.

Selain itu, menurut Budiyanto dari sisi ekonomi dan biaya, manfaat pupuk alami juga lebih hemat karena bisa mengunakan sampah rumah tangga.

Selepas 20 Menit peyampaian materi dari Bapak Budiyanto, Para Peserta kemudian diajak untuk langsung gotong royong membuat pupuk cair, pupuk padat dan Bio Pestisida. Bahan-bahan pembuatan pupuk alami ini sebagian diambil dari tanaman yang tumbuh liar di sekitar lingkungan Desa. Misalnya kotoran hewan, batang pisang, sekam, daun kering dan lain-lain.

Pupuk yang sudah dibuat harus disimpan selama satu minggu dan siap digunakan pada lahan yang sudah disediakan.

Semua peserta begitu antusias mengikuti tiap proses pengolahan pupuk, mereka mencatat tiap detail yang dipaparkan oleh Pemateri. Mereka juga sudah mufakat untuk mengikuti jadwal merawat pupuk secara kolektif sampai pada agenda menanam yang akan diadakan pekan depan. (Team AJ)


Sumber : Akses Jambi


Petani Perempuan Dilatih Membuat Pupuk Kompos


Beranda Perempuan mengadakan pelatihan pembuatan pupuk kompos pada kelompok petani perempuan yang mengelola tanaman Hortikultura, di Desa Pulau Raman, Kecamatan Pemayung Kabupaten Batanghari, Senin (27/07/2020).

Juru bicara save our sisters Zubaidah, mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk membangun kesadaran tentang bahaya penggunaan bahan kimia dan pestisida bagi lingkungan dan kesehatan reproduksi perempuan.

“Karena perempuan dalam kelompok miskin tidak memiliki akses informasi, pendidikan dan dukungan lainnya terkait bahaya penggunaan pestisida dalam pengelolaan lahan,” kata Zubaidah.

Zubaidah juga menjelaskan penggunaan pupuk kimia dan pestisida bisa menjadi salah satu faktor penyebab kasus stunting dan menurunnya kesehatan reproduksi perempuan di Desa.

“karena itu, kedaulatan perempuan atas pengelolaan lahan yang ramah lingkungan harus diperjuangkan sebagai benteng membatasi intervensi kepentingan pasar produk pupuk kimia dan pestisida,” ujar Zubaidah, membuka sesi acara pelatihan.

Sementara itu Budiyanto, selaku Pemateri dari Tim Teknis Budidaya Tanaman Mitra Aksi, menyebutkan penggunaan bahan kimia yang berlebihan bisa merusak tanah sehingga tanah tidak gembur mematikan populasi organisme-organisme pembentuk unsur hara. Manfaat pupuk alami juga lebih hemat karena bisa menggunakan sampah rumah tangga.

Selepas 20 menit penyampaian materi kemudian Budiyanto, mengajak Para Peserta untuk langsung gotong royong membuat pupuk cair, pupuk padat dan Bio Pestisida. Bahan-bahan pembuatan pupuk alami ini sebagian diambil dari tanaman yang tumbuh liar di sekitar lingkungan Desa.

“Misalnya kotoran hewan, batang pisang, sekam, daun kering dan lain-lain. Pupuk yang sudah dibuat harus disimpan selama satu minggu dan siap digunakan pada lahan yang sudah disediakan,” kata Budiyanto.

Nampak para peserta begitu antusias mengikuti setiap proses pengolahan pupuk, mereka mencatat sedetailnya apa yang dipaparkan oleh Pemateri. Mereka juga sudah mufakat untuk mengikuti jadwal merawat pupuk secara kolektif sampai pada agenda menanam yang akan diadakan pekan depan.


Sumber : Sitimang.com


Rabu, 22 Juli 2020

Penghilangan Ruang Hidup Perempuan dalam Konsesi Perkebunan sawit dan HTI



Pengantar 
Pembangunan hutan tanaman industri dan perkebunan kelapa sawit yang sangat ekspansif merupakan potret nyata orientasi kebijakan ekonomi pemerintah Jambi belum beranjak dari ketergantungan pada industri ekstraktif yang eksploitatif dan sarat konflik. Namun demikian, belum ada studi singkat bagaimana sistem konsesi tersebut bekerja menegasikan hak-hak kelompok perempuan dan menaruh perhatian pada peran dan posisi perempuan dalam upaya pertahanan wilayah kelola yang dalam pengambarannya perempuan menjadi pihak yang terselubung(hidden). 

Studi ini mengunakan lensa politik ekologi feminis untuk membantu memberikan ruang kajian tentang bagaimana perubahan tata kelola lahan dan krisis sosial-ekologis menempatkan dimensi gender sebagai sebuah kontruksi sosial yang dapat berkembang dan digunakan untuk memeriksa masalah yang timbul dihadapi oleh perempuan dan kelompok marjinal lainnya. Secara khusus, Kunci untuk memeriksa jaring kuasa dan proses perubahan tata kelola lahan dalam studi ini mengurai pengetahuan dan pengalaman yang melekat dalam sejarah panjang peran perempuan sebagai penjaga pangan dan peramu. Telah banyak data yang dikumpulkan dan para antropolog membenarkan sumbangan perempuan yang besar bagi keluarga dan dunia sebagai penemu ilmu pertanian dan peramu yang handal. 

Wilayah studi ini difokuskan di dua desa yang selama ini menjadi dampingan WALHI yaitu desa Sogo, Kecamatan Kumpeh Kabupaten Muaro Jambi dan Desa Rukam kecamatan Taman Rajo Kabupaten Muaro Jambi. pertanyaan umum dalam studi ini adalah bagaimana konsesi Hutan tanaman Industri milik Wirakarya Sakti (WKS) dan Konsesi Perkebunan sawit milik PT Bukit Bintang Sawit (PT BBS) mengakibatkan krisis sosial-ekologis dan membangkitkan berbagai respon dari kelompok perempuan. Struktur penulisan laporan ini sebagai berikut, di muka akan dipaparkan pengantar dan tujuan studi. Bagian kedua berisi metodologi penelitian dan metode pengumpulan data. Bagian ketiga berisi pembahasan tentang penghilangan dan pengabaian pengetahuan perempuan. bagian keempat merupakan catatan penutup berisikan rekomendasi dan catatan penting selama perjalanan studi.


Minggu, 19 Juli 2020

Suara Perempuan Pejuang Pangan dari Desa Pulau Raman



Bertempat di Desa Pulau Raman, Kecamatan Pemayung Kabupaten Batanghari, Minggu (19/7/20), Beranda Perempuan menggelar pelatihan bertajuk “Penguatan kapasitas kelompok perempuan dalam pengelolaan pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan”. Acara tersebut diikuti oleh 25 perempuan petani pangan.

Selama dua jam mereka diberi ruang untuk menceritakan pengalaman mereka terkait pengelolaan tanaman pangan, mekaitkan pengetahuan adaptasi dengan siklus banjir karena  keberadaan desa mereka yang dikelilingi  Sungai Batanghari. Baca selengkapnya 

Kamis, 09 Juli 2020

Kelas Menulis untuk Perempuan




Dalam rangka menumbuhkan minat menulis dengan perspektif perempuan. Beranda Perempuan menggelar pelatihan menulis yang diikuti sebanyak 14 peserta perempuan dari berbagai organisasi dan profesi, Sabtu(9/01).

Pelatihan tersebut di selenggarakan di Kantor Perkumpulan Hijau, dengan menghadirkan pemateri Irma Tambunan(wartawan Kompas).Selama satu jam Irma secara sukarela berbagi ilmunya seputar dasar-dasar menulis dalam kaidah jurnalistik.

Menurut Irma Seorang penulis pemula harus tekun memperbaiki dan membaca kembali keseluruhan tulisannya sendiri.Menandai hal-hal yang perlu diperbaiki atau ditambahkan. Proses tersebut penting dilakukan agar penulis mampu menghasilkan sebuah tulisan yang menarik untuk dibaca.
“ Menulis tugas penting bagi perempuan untuk mendokumentasikan pengetahuan dan pengalaman perempuan. Namun faktanya kapasitas perempuan dalam menulis masih minim, sehingga training menulis sangat dibutuhkan agar perempuan bisa menulis dengan tema yang dekat dengan keseharian perempuan.” Ujar Novriyanti Salahsatu Panitia training dari Beranda Perempuan.

Diakhir acara Irma memberikan Pekerjaan Rumah(PR) berupa tulisan mentah yang akan di olah menjadi tulisan dalam format berita untuk semua peserta training. Jika masing-masing peserta telah mengerjakan PR menulis berita. Maka semua tulisan akan dan di diskusikan dan di koreksi secara bersama-sama pada pertemuan kelas menulis selanjutnya.

Kunjungan Mahasiswa Pascasarjana di Sekolah Embun Pagi






Sebagian kita prihatin dengan kecenderungan mahasiswa saat ini yang apatis dan pragmatis. Tapi hal itu tidak berlaku bagi taufik, irul, reni, iska dan latansa. mereka berlima adalah mahasiswa pascasarjana Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di IAIN. Bagi mereka teori yang mereka dapat dikampus harus dipraktekkan dan dimanfaatkan bagi masyarakat yang membutuhkan.

Sore itu (26 Mei 2014), mereka berkunjung ke sekolah PAUD Embun Pagi. Kedatangan mereka disambut ramah oleh pengurus PAUD Embun Pagi. Salah satu dari mereka langsung berkenalan, anak-anak menyambut dengan malu-malu. Siska dan Reni berinisiatif mengajak anak-anak untuk bernyanyi, anak-anak pun mulai berani dan akrab.

Siska mengatakan sangat prihatin dengan pemaksaan calistung pada anak usia dini oleh orang tua hal tersebut tak terlepas dari tuntutan sekolah dasar,sehingga kedepan mungkin saja kita mencari solusi bersama.

“Saya salut dengan guru disini, mereka sangat bersemangat dan bagus cara mengajarnya, padahal mereka tamatan SMP” ujar taufik disela rehat sekolah.

Mendekati pukul 17.00wib jam sekolah usai dan diakhiri dengan sharing pengurus sekolah dengan taufik dan keempat temannya.

“Kami mengucapkan terima kasih, karena tidak banyak mahasiswa yang mau belajar dan berbagi ilmu dengan kami” demikian ucap ria menutup pertemuan sore itu.

Rabu, 08 Juli 2020

Bertani Hingga Senja



Tangannya dengan tangkas membungkus nasi. Mintarsih tengah bersiap untuk berangkat ke ladang.
Usianya sudah tak layak dikatakan muda. 60 tahun. Sangat wajar jika warga sesama petani memanggilnya Nenek. Di lingkungannya Mintarsih akrab dipanggil Nek Min.

Menyibak ranting-ranting dan dahan-dahan kayu mati adalah aktivitas Nek Min saban hari. “Ya, ke ladang. Kalau nggak ke ladang mah ngapain lagi”, tegasnya, (Jum’at, 14/11). Dialek sunda begitu melekat dalam setiap bicara. Memang perannya di ladang tak sebesar Ki Antar, suaminya, Namun Nek Min tak pernah tinggal diam kalau sudah menyangkut apa saja yang perlu ditanam.
Tak pelak, kebutuhan dapur Nek Min dan Ki Antar tertutupi oleh aneka tanaman di ladang mereka. “Kalau untuk makan ya cukup”, tutur Nek Min datar. Nek Min juga menanam kunyit dan jahe, biasanya untuk keperluan obat. Pasangan senja ini merasakan berlipat-lipat lebih tenang hidup di hutan, menjaga kebun yang kini tumbuh subur. Disini lah masa depan anak-anaknya disandarkan.

Tapi situasi tak tiba-tiba damai dan lancar seperti sekarang. Di pertengahan 2008 lalu, Nek Min dan Ki Antar datang ke hutan belantara – memang dengan niat untuk bertani dan membangun kebun, karena hanya itu keahlian yang mereka punya. Namun larangan mengancam bertubi-tubi. “Kalau nggak inget masa depan anak-anak, ya nggak kuat”, ulasnya.
Hari-hari Nek Min selalu dalam bayang-bayang pengusiran aparat. Suara ledakan pistol pun bukan lagi hal asing bagi Nek Min. Pernah di satu ketika, Nek Min diberi nasihat oleh kerabat sesama pembuka hutan, agar Nek Min dan Ki Antar sebaiknya keluar dulu dari hutan. Pasalnya, pihak perusahaan konservasi – pengelola hutan ini – bersama aparat kepolisian akan menangkap suami Nek Min, karena dicap sebagai provokator bagi warga lainnya.

Dengan berat hati Nek Min meninggalkan tebasan yang ketika itu baru dimulai, demi keselamatan suaminya dari intaian aparat. “Rasanya nggak ikhlas ninggalin ladang. Tapi demi Aki, ya terpaksa ngalah dulu”, ingat Nek Min.
Tak lama setelah kepergian Nek Min dan Ki Antar, situasi memang memanas. Sejumlah pimpinan serikat tani ditangkap karena melawan dan tak mau diusir aparat dan perusahaan. Satu sisi Nek Min merasa tak enak hati dengan warga lainnya. Namun tak tega melihat suaminya jika harus ikut diciduk aparat mengingat usianya yang hampir menginjak 80 tahun.

Dua bulan berikutnya, Nek Min akhirnya kembali ke hutan, tanpa sang suami. Nek Min menanam tanaman jangka pendek untuk sekedar keperluan makan. Terlebih Nek Min tak ingin membiarkan lahannya menjadi belukar.

Setelah situasi mulai dingin, aparat mulai surut, Nek Min memberi kabar ke Ki Antar agar segera menyusul.
Situasi aman sementara. Namun akar masalah masih tetap menjalar. Nek Min dan petani lainnya bertani dan berkebun di kawasan hutan negara. Kawasan yang tak dapat diakses secara bebas oleh petani. Artinya, ancaman untuk Ki Antar, suami Nek Min belum padam sepenuhnya.

Oleh: Pauzan Fitrah (Anggota AGRA-Jambi)

PENYULUHAN BAHAYA ASAP BAGI PEREMPUAN



Beranda Perempuan dan Serikat Perempuan Indonesia (Seruni) Jambi meyelenggarakan peyuluhan dampak Asap terhadap kesehatan dan cek kesehatan gratis untuk ibu-ibu petani sayur di RT.28, Paalmerah, Jambi pada hari Sabtu (26/09), bertempat di Paud Embun Pagi.

Hampir dua bulan asap pekat melanda Jambi telah menganggu kesehatan masyarakat – utamanya kalangan menengah ke bawah. Penderita ISPA terus meningkat: mencapai 10.058, menyasar kelompok yang paling rentan, yakni perempuan, ibu hamil dan anak-anak.

Kenyataan tersebut membuat Rezky, Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi tergerak untuk berbagi ilmu dan pengetahuan mengenai bahaya asap bagi tubuh, berikut cara pencegahannya.
“Kabut Asap bisa memperburuk Asma dan Peyakit Kronis Obstruktif Kronik (PPOK). Bagi ibu hamil, terpapar Asap bisa mengakibatkan bayi lahir prematur karena kurangnya asupan oksigen,” sebutnya.

Rezky menambahkan, upaya pencegahan yang bisa dilakukan adalah dengan banyak minum air putih, dan jika keluar mengunakan masker tipe N95 yang memenuhi standar. “Masker yang banyak kita gunakan masih belum bisa menangkal partikel debu,” tambahnya.

Zubaidah, Koordinator Beranda Perempuan menjelaskan bahwa Jambi saat ini dalam kondisi darurat asap. Seharusnya pemerintah segera meyelamatkan warganya dengan jalan memberikan hukuman seberat-beratnya, serta mencabut izin Perusahaan HTI dan perkebunan sawit yang membakar lahan.

“Ini sangat membahayakan. Pemerintah wajib memberikan jaminan kesehatan gratis bagi penderita ISPA. Dirikan posko kesehatan di kawasan yang rawan asap,” ungkap Zubaidah.

Di Sela-sela peyuluhan tersebut, 30 orang peserta peyuluhan yang mayoritas ibu-ibu satu persatu memeriksa kesehatan yang di fasilitasi oleh Mona, Mahasiswa Akbid Budi Mulya Jambi. Mereka banyak mengeluhkan kepala pusing dan mata terasa perih.

Di akhir acara, secara simbolik Sariah selaku ketua organisasi Seruni Jambi memberikan delapan ikat sayur sawi kepada Rezky dan Mona, sebagai ungkapan terima kasih atas kerelaannya telah berbagi informasi dan pengetahuan kepada ibu-ibu di kampungnya.

Beranda Perempuan Rintis Rumah Pintar




Saung setengah permanen itu ramai dengan anak anak  berumur 3-5 tahun. tidak ada meja dan kursi apalagi alat alat peraga, meski sarana dan prasarana sangat minim tapi  tidak mengurangi  tekad Beranda Perempuan untuk mendirikan  Rumah Pintar  bagi anak anak petani sayur yang berlokasi di jalan Lingkar Selatan 1 kelurahan Paal Merah kecamatan Jambi Selatan
“ide awal Rumah pintar ini sebenarnya di inisiasi oleh ibu ibu dari anak anak Rumah Pintar, mereka banyak mengeluh karena untuk masuk Taman Kanak Kanak (TK) butuh biaya. Sedangkan mereka hanya ibu rumah tangga yang bergantung dengan pendapatan dari suami yang bekerja sebagai petani sayur.”ungkap Molly seorang pengajar sekaligus pengurus  Beranda Perempuan.

Di hari pertama pembukaan Rumah Pintar. Seluruh pengurus Rumah Pintar lebih banyak memperkenalkan diri kepada peserta taman belajar sambil memberikan  permainan tradisional  yakni kaki siapa dan injit injit semut salahsatu permainan tradisional yang murah dan meyenangkan namun mampu menanamkan nilai nilai kebersamaan dan suasana keakraban diantara anak anak dan bersahabat dengan alam 

“Saya sangat terbantu dengan keberadaan Rumah Pintar  ini, disana anak saya Alika bisa belajar bersosialisasi tanpa harus dipusingkan dengan beratnya biaya sekolah. maklumlah penghasilan saya dan suami dari menjual sayur Rp. 300-500 per bulan. itupun harus di hemat karena Alika punya dua kakak yang masih sekolah di sekolah menengah pertama (SMP).Ujar Rubiati salahsatu orangtua peserta Rumah Pintar



Error 404

The page you were looking for, could not be found. You may have typed the address incorrectly or you may have used an outdated link.

Go to Homepage